Disebuah
kota Jakarta bagian selatan jam enam pagi. Kalin berjalan setengah berlari
menyusuri beberapa perumahan minimalis di kompleknya. Rambut ekor kudanya
bergoyang seirama langkah ke kanan dan ke kiri. Beberapa anak rambut juga
berhasil lolos dari ikatan rambutnya. Membuat Kalin mau tak mau harus
menghentikan langkah guna memperbaiki ikat rambutnya.
Di pinggir
Kalin ada beberapa ibu-ibu yang sedang menggerubungi tukang sayur, mereka
terlihat saling tawar-menawar. Lalu ada satu dua anak berlarian sembari
tertawa. Mereka semua terlihat begitu bahagia. Ada lagi tukang bubur ayam yang
mengetuk mangkuknya guna menarik pelanggan. Masih terlalu pagi tapi kota
metropolitan tak pernah mati.
Kalin
melewati orang-orang itu dengan sesekali menyapa, walaupun tidak ada yang
dikenalnya, ia tidak peduli. Kalin tetap berjalan santai sembari bersenandung
ria.
Minggu yang
cerah dan suasana yang baru.
Setelah berjalan
santai kurang lebih setengah jam Kalin sampai di tempat tujuannya. Taman Adodya
yang berada di jalan Barito Jakarta Selatan. Gadis itu merogoh ponsel di saku
celananya untuk menghubungi temannya. Di sini ramai, sulit baginya untuk
menemukan Rere-temannya.
'Halo, iya
Re. Gue di dekat pancoran, lo di mana? Oh oke, gue ke situ.'
Setelah
mematikan sambungan telepon Kalin kembali memasukan ponselnya pada saku celana
dan berjalan menuju tempat di mana Rere berada.
"Re-
Rere!"
Tidak sulit
bagi Kalin untuk menemukan Rere walaupun sudah sangat jarang sekali bertemu.
Karena Kalin masih hapal bentuk postur tubuh temannya itu.
Gadis yang
merasa dipanggil namanya itu berbalik dan tersenyum manis sebelum kemudian
menghampiri Kalin.
"Jadi
ceritanya lo pindah ke Jakarta nih?" Gadis yang berbicara itu menggerai
rambutnya yang kusut kena angin. Menyisir dengan jarinya, lalu mengikat kencang
dan rapi.
Mata Kalin
memandang ke depan, melihat berpuluh-puluh orang berkumpul di tengah lapangan,
terlihat seperti membentuk barisan. Rupanya mereka akan melakukan senam pagi.
"Iya,
bokap gue dipindah tugas ke Jakarta. Makanya pindah deh." Jawabnya setelah
meneguk air mineral.
Nama gadis
itu Kalinsya Putri Aulia. Orang-orang memanggilnya Kalin. Remaja yang masih
duduk dibangku SMA. Pindahan dari Bandung dua hari yang lalu karena ayahnya
dimutasi ke Jakarta. Sehingga membuat Kalin harus ikut pindah dan tinggal di
ibu kota ini.
"Terus,
sekolah di tempat gue?"
"Iyalah,
di mana lagi."
Sebelumnya
di Bandung Kalin bersekolah disalah satu SMA favorit dan terkenal dengan
segudang prestasi. Salah satu sekolah negeri yang telah memberi banyak
pengalaman selama satu tahun terakhir pada Kalin. Sebelum masanya Kalin harus
pindah sekolah ke Jakarta, membuat Kalin merasa bingung mesti pindah sekolah ke
tempat mana, walaupun di Jakarta lebih banyak sekolah yang unggul dan
berprestasi. Sampai akhirnya Kalin membuka aplikasi Instagram dan menghubungi
Rere perihal ke pindahannya. Hingga akhirnya pilihan sekolahnya jatuh di mana
tempat Rere bersekolah.
Rere adalah
teman semasa kecilnya di Bandung. Mereka cukup dekat waktu itu, ibu Rere dan
ibu Kalin sendiri menjalin sahabat semasa kuliahnya. Makanya tak heran mereka
masih terlihat akrab walaupun bahkan jarang bertemu. Waktu itu Rere dan
keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan
papanya. Sehingga membuat Kalin dan Rere tidak pernah bertemu lagi. Paling
sesekali menghubungi lewat sosial media. Tapi tidak ada yang tahu kalau mereka
akan bertemu lagi dan bersekolah di tempat yang sama.
"Oke
deh, semoga aja kita satu kelas." Kata Rere.
"Mudah-mudahan."
Balas Kalin.
Hening
beberapa saat di antara keduanya, tapi tidak dengan suasana sekitar. Karena
nyatanya kota metropolitan tak pernah mati barang sedetik pun. Terdengar bising
jalanan, suara sirine, bunyi klakson yang saling bersahutan, nyanyian pengamen
jalanan, hingar musik senam pagi, dan suara dering yang berasal dari ponsel
milik Rere.
Gadis itu
permisi untuk mengangkat panggilan di ponselnya dan melangkah menjauh dari
Kalin.
Selang
beberapa menit kemudian Rere kembali muncul di hadapan Kalin. "Lin, gue
pulang duluan ya?" Ujar Rere begitu sampai di depan Kalin. Kalin yang
sedang memainkan ponsel sejenak mendongak begitu mendengar suara Rere.
"Lho,
kenapa?" Tanyanya.
"Di
rumah ada Rio, dia nungguin gue dari tadi katanya."
Jawaban Rere
membuat kerutan di kening Kalin.
Lantas Kalin
kembali bertanya.
"Cowok
lo?"
"Iya."
Kalin
manggut-manggut tanda mengerti, kemudian gadis itu tersenyum dan mempersilahkan
Rere untuk pulang lebih dulu. Walaupun janji untuk menemani jalan-jalan di hari
minggunya harus tidak jadi.
"Yaudah,
deh. Gue pulang duluan ya. Hati-hati Lin, bye!"
Kalin
menyusut pipinya dengan punggung tangannya lalu menatap kearah punggung Rere
yang semakin menjauh dan menghilang di balik punggung orang lain.
Kebiasaan
Rere yang tidak pernah berubah sedari dulu. Gadis itu selalu mencium pipi Kalin
sebagai tanda bentuk perpisahan.
Kalin
beranjak dari tempat duduknya. Mendongak dan menatap langit yang sudah mulai
terasa panas. Matanya sempat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan
kirinya. Pukul 09:36, ia berjalan mendekati beberapa jajanan yang berjejer di
pinggir lapangan. Perut Kalin keroncongan, ia tidak sempat sarapan pagi.
Pilihannya
jatuh membeli bubur sum-sum dan air mineral, persediaan minumnya sudah habis
sejak tadi.
Sebenarnya
ada banyak makanan yang bisa Kalin beli, seperti: bubur ayam, doclang, nasi
uduk, ketoprak, dan masih banyak yang lainnya. Tapi melihat antrian yang lumayan
akan lama jadi Kalin mengurungkan niatnya dan memilih membeli bubur sum-sum.
Setelah
membayar buburnya Kalin kembali berjalan menuju tempat duduk yang ada di bawah
pohon rindang. Tempat yang berbeda dari sebelumnya dan Kalin rasa akan terasa
nyaman dari lindungan sengatan matahari.
Ketika Kalin
sedang berjalan, tiba-tiba seseorang entah siapa menabrak tubuh bagian
belakangnya dengan begitu keras. Kalin yang sedang berjalan santai merasa
terkejut dengan tubrukan itu sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke depan
dengan naas. Kedua lengannya mencium tanah, begitu dengan lututnya. Lalu bubur
sum-sum yang dipegangnya berhamburan di atas tanah.
"Awhh."
Kalin meringis kesakitan begitu mencoba untuk berdiri. Lututnya begitu terasa
kaku dan ngilu secara bersamaan.
Masih duduk
di atas tanah, Kalin membersihkan tanah yang menempel di kedua telapak
tangannya.
"Ya
ampun dek! maafin anak saya ya. Sini saya bantu berdiri."
Kalin
mendongak mendengar suara itu. Matanya melihat seorang wanita yang mungkin
berusia empat puluh tahun sedang mencoba membantunya untuk berdiri.
Kalin
mencoba untuk tersenyum walaupun terlihat gagal karena ia tersenyum sembari
meringis kesakitan.
Ibu-ibu itu
meminta maaf padanya akibat ulah anaknya yang berusia tujuh tahun. Bahkan
ibu-ibu itu mengangsurkan uang pada Kalin untuk mengobati luka di lututnya.
Kalin menolaknya dengan halus.
"Nggak
papa bu, namanya juga anak kecil." Jawab Kalin.
Ibu-ibu di
depannya itu tersenyum dan kembali memasukkan uangnya ke dalam dompet. Ia
permisi pada Kalin untuk menyusul anaknya yang masih terlihat sedang
berlari-lari di tengah kerumunan orang.
Kalin
mencoba menggerakkan kakinya menuju tempat duduk yang menjadi tujuan
sebelumnya.
Sebelum
kejadian mengenaskan Kalin ditabrak oleh anak laki-laki berusia sekitar tujuh
tahun, dan menyebabkan bubur sum-sumnya terbuang sia-sia. Ah, ia bahkan belum sempat
mencicipinya.
Kalin
berjalan setengah terpogoh menahan rasa sakit di lututnya. Berusaha untuk cepat
sampai pada kursi yang ditujunya.
Ia
menghempaskan bokongnya dan menyandarkan penuh punggungnya pada kursi di taman.
Ternyata berjalan setengah terpogoh menahan rasa sakit membuat Kalin merasakan
lelah.
Sedang asik
duduk di taman sembari membersihkan luka di lututnya dengan air mineral yang ia
beli. Kalin kembali dikejutkan dengan suara bariton milik laki-laki di
sampingnya.
"Kamu
nggak papa?"
Eh, Mata
Kalin menatap pada kedua manik hitam di depannya yang sedang tersenyum manis
padanya.
Sempat
terjadi aksi tatap mata sebelum kemudian Kalin mengalihkan pandangan.
Laki-laki
itu mengernyit melihat ekspresi Kalin. Lalu kembali bertanya.
"Nggak
papa?" Tanyanya ulang.
"Aku
tadi lihat kamu jatuh di sana, ke tubruk sama anak kecil."
Kalin masih
diam, bisu. Pertanyaan bertubi-tubi dari seseorang yang tidak dikenalnya
berhasil membuat Kalin mendadak gagu.
"Oh, itu.
Nggak papa kok cuman sedikit lecet aja." Kalin tersenyum manis. Lalu
merapihkan kunciran rambutnya. Mengikatnya lebih kencang supaya tidak cepat
berantakan dan menghalangi matanya.
Laki-laki
yang disampingnya ikut mengangguk dan membalas senyumnya hangat.
"Mau
aku bantu obatin lukanya?" Dari suaranya Kalin bisa menebak bawa laki-laki
itu berucap cukup hati-hati.
"Hah?
Nggak usah, aku nggak papa kok." Kalin meyakinkan dengan kembali
tersenyum.
"Aku
Keano.. kamu?"
Laki-laki
yang bernama Keano itu mengulurkan tangannya.
Kalin
memandang sejenak sebelum akhirnya membalas uluran tangan itu.
"Kalin."
Jawab Kalin yang dibalas anggukan oleh Keano.
Hening
berdetik-detik. Kalin dengan kegiatannya membersihkan luka di lutut. Dan Keano
yang fokus menatap ke depan.
"Aku
beliin bubur sum-sum lagi mau? Kayanya kamu belum sempet makan gara-gara
jatuh."
Kata-kata
Keano membuat Kalin terbengong. Kemudian menggeleng.
"Eh,
nggak usah. Nggak papa." Kalin menolak
"Udah
nggak papa, kamu tunggu di sini aja. Aku beli dulu, oke."
Lalu Kalin
melihat punggung Keano yang berjalan menghampiri tukang bubur sum-sum.
Setelah
kurang lebih sepuluh menit Keano kembali dengan membawa bubur sum-sum di
tangannya. Ia tersenyum pada Kalin sebelum menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Nih."
Keano memberikan bubur sum-sum pada Kalin dan dibalas dengan senyum serta
ucapan terimakasih darinya.
"Makasih
ya." Keano balas mengangguk.
Kini Kalin
disibukan dengan aktifitas memakan bubur sum-sum nya. Sedangkan Keano dia
terlihat meminum es teh yang ia beli bersama dengan bubur sum-sum. Sampai tidak
terasa bahwa Kalin sudah memakan habis buburnya.
Ia melihat
ke arah samping di mana Keano berada, memandangnya lalu tersenyum canggung
begitu Keano melirik kearahnya.
"Kamu
sendirian aja joggingnya?" Tanya Keano. Mata laki-laki itu menatap Kalin
sejenak sebelum kembali memfokuskan pandangannya ke depan pada anak kecil yang
terlihat merengek pada ibunya.
"Sebenarnya
tadi sama temen, tapi dia pulang duluan."
"Oh,"
Keano mengangguk paham.
"Kamu
sendiri juga, sama?"
Lelaki itu
balas mengangguk.
"Iya,
temen-temen mana ada yang udah bangun jam segini. Pasti mereka memilih tidur
daripada olahraga." Ujarnya sambil terkekeh.
Benar, anak
laki-laki pasti lebih memilih menghabiskan waktu liburnya di dalam kamar dengan
tidur seharian full. Mengganti jadwal tidurnya yang semalam mereka pakai untuk
nonton bola atau kegiatan bergadang lainnya.
Kalin dan
Keano kembali berbincang-bincang untuk mencairkan suasana yang terasa canggung.
Mereka tak saling kenal, tapi seolah tidak ada hambatan untuk keduanya
mengobrol berdua. Kalin sendiri tidak merasa masalah. Ia bahkan senang bisa
langsung dapat teman di hari pertamanya keluar dari rumah. Tidak terlalu buruk.
Keano terlihat baik.
Kalin
merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Satu pesan teks muncul di layar.
From: Mama
'masih
dimana, kok belum pulang?'
Kalin
menggerakkan kedua ibu jarinya di atas layar ponsel. Membalas pesan dari
ibunya.
Setelah
selesai membalas pesan dari ibunya, ia menoleh ke arah Keano yang kebetulan
sedang menatapnya. Sebuah mata cokelat menatapnya dengan begitu intens.
Kalin
berdeham, seolah membuyarkan pandangan Keano darinya.
"Habis
ini kamu mau kemana?" Tanya Kalin.
"Kenapa
memangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Kalin, Keano malah balik
bertanya.
"Kalau
aku mau pulang. Udah di sms sama mama."
"Oh
yaudah. Aku juga mau pergi ke sana." Jawabnya.
Kalin
tersenyum dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan pelan-pelan setelah sebelumnya
pamit dan mengucapkan terima kasih pada Keano.
Keano masih
diam, menatap gadis yang sudah berada jauh beberapa meter darinya. Sedang
berjalan dengan begitu pelan dan hilang dibalik punggung orang.
Keano
melirik jam tangannya lalu bangkit dari duduknya. Meninggalkan sekerumunan
orang, menyebrang jalan dan hilang di balik tikungan untuk menuju kosan yang
jaraknya tidak terlalu jauh dari taman Adodya.
****
Kalin
merebahkan tubuhnya lelah di atas sofa empuk ruang tamu rumahnya. Matanya
dibiarkan terpejam. Titik-titik keringat jatuh dari pelipis mata. Tangganya
bergerak mencari remote AC, lalu menyalakannya. Siapa tahu suhu ruangan dingin
bisa membuatnya sedikit merasa sejuk.
Ibunya
muncul dari balik pintu dapur dengan membawa es jeruk di tangannya. Ia berjalan
menuju Kalin dan menempelkan badan gelas dipipinya.
Kalin
terkesiap begitu merasakan sensasi dingin menyentuh pipinya. Ia membuka mata
dan menemukan ibunya sedang tersenyum padanya.
"Capek,
ya?" Rike menyerahkan minum pada anaknya yang langsung diterima dan
diteguk hingga tersisa seperempat.
"Makasih,
Ma." Ujar Kalin setelah beres minum. Rike mengangguk lalu kembali berdiri
dan berjalan menuju dapur dengan tangan yang membawa gelas bekas anaknya.
"Setelah
itu mandi Lin, nanti mama siapin makan buat kamu."
"Iya,
Ma." Jawab Kalin. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang berada di
atas. Tidak lupa tangganya membawa kotak P3K yang ia ambil di laci bawah. Kalin
akan kembali mengobati lututnya.
****
Malam sudah
terlewat dan pagi mulai beranjak. Kalin merapihkan seragam sekolahnya, sedikit
berkutat di depan cermin. Memoles pipinya dengan sedikit bedak dan sentuhan lip
ice di bibirnya. Kalin tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Hari
pertamanya masuk sekolah di sekolah baru. Semoga menyenangkan.
Kalin
bergerak menuju meja belajar. Mengambil tas gendongnya dan kembali memeriksa
barang bawaannya. Memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Ini hari pertama
Kalin bersekolah di sekolah baru, tidak lucu baginya kalau harus dihukum
gara-gara tidak membawa perlengkapan sekolah. Misalnya topi upacara.
Tangannya
bergerak memutar kenop pintu dan menuruni tangga untuk menuju ruang makan.
Aroma roti bakar isi telur buatan ibunya memanggil-manggil perut Kalin yang
keroncongan.
"Pagi,
Ma. Pagi, Pa." Sapa Kalin serta merta menjatuhkan bokongnya dibangku
samping ayahnya. Rike balas tersenyum, begitu pula dengan ayahnya.
"Udah
rapi aja anak papa." Ujar Arya begitu melihat keadaan putrinya. Sejenak ia
menaruh koran yang sedari tadi dibacanya.
Kalin balas
tersenyum. "Iyalah, kan mau masuk ke sekolah baru." Ujar ibunya
sembari menuangkan teh pada gelas di depannya.
Selanjutnya
ketiga orang di ruang makan itu disibukkan dengan sarapannya masing-masing.
Sebelum akhirnya Kalin membuka suara. "Udah setengah tujuh, yah."
Kalin mengingatkan setelah melihat jam dipergelangan tangannya. Ia lalu berdiri
dan duduk di ruang tamu. Mengambil sepatu yang disimpannya dibalik pintu lalu
mengenakannya.
Arya
menyusul dengan Rike yang membawa tas kerjanya.
"Kalin
berangkat dulu ya, ma. Assalamualaikum." Kalin mencium punggung lengan
ibunya. Dan bergerak menuju mobil. Sedangkan Rike terlihat mencium punggung
lengan suaminya sebelum berucap.
"Wa'alaikum
salam. Hati-hati Lin, Pa." Ujarnya yang dibalas angkatan jempol oleh
suaminya.
****
Kalin pamit
kepada ayahnya begitu sampai di tempat sekolah barunya. Ia berjalan menuju
gerbang utama sekolahnya. Matanya melihat beberapa murid sekolah yang
mengenakan seragam yang sama dengannya, sedang berbincang-bincang dengan
beberapa temannya.
Matanya
celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari seseorang yang bisa
membantunya menemukan ruang kepala sekolah. Kalin tidak tahu di mana letak
ruang guru, kelasnya, bahkan kantin ataupun toilet ia tidak tahu. Ini hari
pertamanya masuk sekolah. Ia belum tahu di mana saja letak-letaknya. Apalagi
sekolah yang baru ini terlihat begitu besar.
Beberapa
murid ada yang mencuri pandang pada Kalin. Mereka terlihat berbisik-bisik pada
temannya begitu Kalin melewatinya. Mencoba menebak-nebak bahwa mungkin Kalin
adalah murid baru. Kalin tersenyum ramah pada mereka. Sebelum kembali berjalan
dan berhenti dilangkah kelima. Matanya memandang laki-laki yang sedang berjalan
beberapa meter di hadapannya. Dengan tas yang menggantung di punggung tegapnya.
Dilihatnya lebih jelas punggung itu, sebelum Kalin memutuskan untuk menyeruakan
namanya.
"Keano!"
Kalin mempercepat langkahnya begitu laki-laki yang dipanggilnya itu berhenti
dan berbalik menatapnya. Kalin balas tersenyum. Dengan Keano yang dibuat
bingung tapi tak enggan untuk membalas senyuman Kalin.
****
"Kamu
sekolah di sini?"
Keduanya berjalan
bersisian menyusuri koridor yang ramai dengan murid-murid. Beberapa diantara
mereka sedang menikmati pagi hari dengan caranya sendiri. Ada yang terlihat
sibuk mengobrol dibangku koridor yang panjang, mengoceh sembari tertawa khas
anak perempuan. Lalu ada lagi siswa yang membaca buku sembari berjalan. Oh,
ayolah, ini ramai. Apa dia tidak takut menubruk seseorang? Kalin bergumam dalam
hati. Tapi kemudian bersikap acuh dan tak peduli. Mungkin laki-laki itu tipe
cowok yang kutu buku, pikirnya.
Pertanyaan Kalin
pada Keano dibalas anggukan oleh lelaki itu. Keano juga memberi tahu bahwa dia
berada dikelas XI IPS 4. Kalin mengangguk-anggukan kepalanya dan mendongak pada
Keano yang memiliki postur tubuh yang sangat tinggi. Tingginya hanya sebatas
bahu Keano.
Kalin memang
tidak bisa dikategorikan tinggi dengan postur tubuh yang kecil dan tinggi badan
158cm.
Mereka
berdua sampai pada ruangan yang dimaksud Kalin. Ruang kepala sekolah.
"Ini
ruangannya, Lin." Keano berucap sembari menoleh pada mulut pintu.
"Oke. Makasih
ya, No." Keano balas mengangguk.
Lalu Kalin
masuk dan hilang dibalik pintu. Keano sendiri kembali melanjutkan langkahnya
menuju ruang kelasnya yang ada dilantai tiga.
Kalin
ditempatkan dikelas XI IPA 2 yang berada dilantai dua. Satu kelas dengan Rere.
Walaupun tidak duduk satu bangku, ia tidak merasa masalah. Kalin duduk dengan
Inge-teman barunya. Temannya Rere yang duduk di bangku depan Rere. Kebetulan
hanya bangku itu yang kosong untuk Kalin tempati.
Sepuluh
menit Kalin gunakan untuk berkenalan dengan teman-teman barunya. Dan ia
langsung terlihat akrab dengan teman satu kelasnya. Apalagi Inge yang notabene
nya teman sebangku dan Nadia teman sebangku Rere. Mereka seolah sudah saling
kenal sebelumnya.
Aktivitas
mengobrol disela-sela menunggu kedatangan guru yang mengajar di jam pertama
harus terhenti begitu terdengar suara hentakan sepatu pantofel yang menyentuh
lantai. Disusul dengan kemunculan ibu guru yang masih terlihat muda memasuki
ruang kelas dengan laptop dan beberapa buku dipelukannya.
"Pagi,
Miss." Sapa murid serentak yang dibalas oleh anggukan dari guru itu.
Rima-guru yang mengajar bahasa Inggris lintas minat itu menjatuhkan bokongnya
dikursi empuk milik guru. Meletakkan beberapa buku bahan ajarannya di atas meja
dan menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa.
Setelah
selesai berdoa bersama, pandangannya mengedar keseluruhan penjuru kelas.
Mengamati muridnya satu persatu, lalu pandangan matanya jatuh pada kursi yang
sudah terisi.
Sedikit
melirik daftar absen siswa, Miss Rima berseru. "Kalinsya Putri
Aulia?" Panggilnya.
Kalin yang
merasa dipanggil namanya lantas mengangkat lengannya.
"Murid
baru?" Kalin mengangguk dan dibalas senyuman oleh Miss Rima.
"Baik
kalau begitu, sebelum pelajaran dimulai ketua kelasnya tolongin ibu pasangin
proyektor kelas." Titahnya yang diterima baik oleh Aldo. Lelaki itu
berjalan ke depan setelah sebelumnya mengambil proyektor kelas yang ditaruh di
belakang kelas. Di tempat di samping loker teman-temannya.
****
Bunyi bel
istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tapi Kalin masih setia
dibangkunya dengan tangan yang terus menari di atas buku tulis. Ia sedang
memindahkan catatan yang ada di papan tulis.
"Kantin
nggak, Lin?"
Inge menutup
bukunya lalu memasukan ke dalam tasnya. Dia berdiri dari duduknya dan
menyingkir keluar meja.
"Duluan
aja, gue masih banyak catatannya." Jawab Kalin tanpa menoleh kearah Inge.
"Yaudah,
kita duluan ya." Kali ini Nadia yang bersuara. Kalin balas mengangguk,
lalu keduanya berjalan meninggalkan Kalin.
Rere sendiri
sudah keluar lebih dulu, sejak menit pertama bunyi bel istirahat gadis itu
sudah mengacir keluar kelas. Menginggalkan catatannya yang belum selesai ia
salin. Rere tentunya tidak pergi sendirian ke kantin. Kalin sempat melihat
bahwa tadi Rere di jemput sama cowok di depan kelas. Kata Inge dan Nadia itu
pacarnya Rere, anak kelas XI IPS 1.
Kalin
menutup catatannya dan merapihkan buku-buku yang tergeletak berantakan di atas
meja. Dia memasukan ke dalam tas dan berjalan keluar kelas. Cacing-cacing di
perutnya sudah meminta jatah makan.
Waktu
istirahat pertama memang selalu ramai. Dari luar pun Kalin sudah bisa mendengar
suara bising dari dalam kantin. Selayaknya kacang yang tumpah ruah dari
wadahnya.
Kalin
menyelipkan tubuh kecilnya untuk bisa masuk kedalam kantin, dan berhasil. Kini
Kalin mulai sibuk mencari menu makanan yang bisa mengganjal perutnya selama
satu setengah jam ke depan. Dan pilihannya pun jatuh memilih membeli bakso.
****
Kalin duduk
dibangku kantin yang berada di pojok. Bergabung dengan Rere dan Rio. Sebelumnya
Kalin mencari keberadaan Inge dan Nadia, tapi mereka sulit ditemukan di tempat
ramai seperti ini. Kalin pun bergabung dengan mereka karena panggilan Rere yang
menyeruakan namanya.
"Kalin."
Gadis itu menyapa Rio hangat sembari mengulurkan tangannya.
"Rio."
Balas lelaki itu.
Mereka
mengobrol disela-sela makan. Sampai akhirnya harus kembali ke kelas
masing-masing begitu bel istirahat berbunyi.
Siswa-siswi
yang masih sibuk menghabiskan makanannya dengan terpaksa harus menyelesaikan
dengan secepat kilat untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
Kalin sudah
berada di kelas dan baru saja duduk di kursinya. Mengambil pelajaran baru di
dalam tasnya dan menunggu kedatangan guru mata pelajaran PPKn.
Selang
sepuluh menit berikutnya tidak ada tanda-tanda guru masuk ke kelasnya. Suasana
di kelas menjadi ramai dengan segala tingkah murid. Malah ada beberapa dari
mereka terlihat tidak perduli. Toh, memang ini yang ditunggunya. Jam kosong.
Barangkali hampir semua anak SMA mengharapkan hal tersebut.
Aldo muncul
dibalik mulut pintu disusul dengan Rizal. Kedua lengan mereka masing-masing
mendekap buku paket. Dan membagikannya satu-persatu ke setiap meja. Setelah itu
Aldo berdiri di depan kelas dan meminta perhatian.
"Woy!
Semuanya dengerin gue!"
Teriaknya
supaya didengar oleh teman-temannya yang terlihat sibuk masing-masing. Beberapa
di antara mereka ada yang merespon teriakan Aldo dengan memfokuskan pandangan
padanya, tapi beberapa juga terlihat tidak perduli.
"Pak
Lucky berhalangan masuk hari ini karena ada keperluan mendadak. Tapi dia kasih
tugas buat baca halaman 38 sampai 50. Terus jangan lupa soal yang dihalaman
50nya diisi dari nomor satu sampai sepuluh. Dikertas selembar." Teriaknya
yang dibalas desisan sekelas.
"Kalau
belum paham sekretaris tulis aja nih di depan."
Aldo berjalan
menuju meja Maya dan menyerahkan selembar kertas padanya. Gadis itu menerima
dan berjalan ke depan kelas sembari membawa spidol. Menggoreskan tinta hitam di
white board dan meninggalkan hasil tulisannya yang dapat dilihat oleh teman-temannya.
Tapi segerombolan
anak laki-laki dipojokan sama sekali tidak terusik dengan teriakan Aldo. Mereka
memilih mengobrol atau sekedar memainkan ponsel. Bahkan ada yang membuka lapak
dengan menggelar permainan catur.
Sekali lagi
Aldo berteriak sebelum duduk dikursi miliknya.
"Jangan
lupa untuk di kumpulin tugasnya!"
Didit yang
sedang sibuk main catur lantaran menjawab teriakan Aldo tak kalah kencang.
"Etdah
buset iya nanti gue kerjain. Berisik amat si lu kaya ibu-ibu. Rame!"
Teriaknya yang dibalas cekikikan teman-temannya.
****
Sepulang
sekolah Kalin mampir ke toko buku yang ada di Jakarta. Hanya sendiri dengan
berbekal abang Go-Jek ia bisa sampai di tempat tujuannya.
Matanya
menatap penuh minat pada setiap buku yang terpajang rapi di jejeran rak. Kalin
seolah-olah seperti menemukan oasis di tengah gurun.
Gadis itu
pergi ke toko buku sendirian dan menolak ajakan Inge yang ingin menemaninya.
Bukan apa-apa, Kalin itu tipe orang yang senang berlama-lama di toko buku, dia
bahkan sampai lupa waktu. Sampai-sampai tidak sadar bahwa tiba-tiba waktu
berubah menjadi gelap. Kalin tentu saja tidak mau membuat temannya menunggu
lama lagi. Karena Kalin sendiri pernah punya pengalaman waktu di Bandung.
Temannya meminta pulang lebih dulu karena menunggu Kalin terlalu lama. Makanya
tadi Kalin menolak tawaran Inge dan pergi sendiri saja.
Setelah
menemukan buku yang dicarinya Kalin berjalan menuju kasir untuk membayarnya.
Mata gadis itu sempat melirik ke arah jendela dan terkejut begitu melihat
keadaan luar yang sudah tampak gelap.
Tangan Kalin
bergerak mengambil ponsel yang ditaruhnya di dalam tas. Dan merutuki
kebodohannya begitu melihat baterai ponselnya sudah habis. Ia bahkan lupa
perihal ini.
Kalin
berdiri cukup lama. Menimang dirinya untuk pulang ke rumah dengan naik angkutan
umum atau tidak. Tapi masalahnya Kalin tidak tahu angkutan umum mana yang akan
mengantarkannya ke rumah.
Suasana
semakin gelap dan awan yang tadinya terang benderang berubah menjadi gumpalan
awan hitam. Disertai dengan angin yang berhembus kencang. Rupanya sebentar lagi
akan turun hujan.
Andai saja
telepon umum masih bisa ditemui di Jakarta, dia pasti tidak akan susah-susah
untuk menghubungi ibunya dan meminta jemput.
Sedang sibuk
memperhatikan langit dan keadaan sekitar, Kalin dikejutkan dengan suara
panggilan pada dirinya. Bersamaan dengan munculnya Keano di pandangannya.
Laki-laki itu turun dari motornya sambil membuka helm dan menatap Kalin
bingung.
"Kamu
lagi ngapain, Lin?" Tanya Keano bingung begitu melihat keadaan Kalin.
Gadis itu bahkan masih mengenakan seragam sekolah disaat jam yang sudah
menunjukan pukul lima sore.
Kalin
tersenyum menyapa, tak elak dia merasa sedikit tenang dengan kedatangan Keano.
"Aku
boleh pinjem hp kamu nggak? Mau telpon Mama buat jemput. Hp aku lowbet."
Katanya sambil melihat mata Keano. Mengabaikan pertanyaan Keano sebelumnya.
Lelaki itu
bergerak membuka jaket yang dikenakannya dan menyerahkan pada Kalin. Berjalan
menuju motornya sebelum berucap.
"Aku
antar pulang. Itu pake jaketnya buat tutupin rok kamu."
Kalin
tersenyum dan bergerak mengenakan jaket milik Keano untuk menutupi rok
pendeknya. Lalu berjalan menuju motor Keano.
Setelah
Kalin duduk di motor Keano dengan sedikit kesusahan karena motor Keano yang
gede. Akhirnya motor Keano melesat ke jalan raya Jakarta yang padat. Menyelipkan
motornya ke kanan dan ke kiri dengan angin yang berhembus kencang di udara.
Motor Keano
melipir begitu sampai di rumah milik Kalin. Dia membuka helmnya dan menemukan
Kalin yang menatap penuh pada dia dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
Diserahkan jaket keano padanya.
"Makasih
ya, No." Lelaki itu balas mengangguk.
"Mau
mampir dulu nggak?" Tanya Kalin basa-basi.
"Nggak
usah deh, aku langsung balik aja udah sore." Katanya yang dibalas anggukan
oleh Kalin. Lelaki itu kembali memasangkan helmnya dan bergerak melaju dengan
kecepatan tinggi. Meninggalkan pohon-pohon dan beberapa rumah yang tertinggal
di belakang.
"Kok
tumben baru balik?" Tanya Rike begitu Kalin membuka pintu rumah. Matanya
sempat melihat kearah depan.
"Tadi
Kalin mampir ke toko buku sepulang sekolah. Terus pas mau kabari mama ponsel
Kalin mati." Jelasnya. Dia bergerak membuka sepatu dan menaruhnya dirak.
"Terus
tadi siapa yang anterin kamu pulang?" Rike kembali bersuara. Mereka
berjalan kearah dapur dengan Kalin yang saat ini sedang mengambil air di
dispenser.
"Itu
Keano. Kebetulan dia datang disaat Kalin kebingungan gimana caranya pulang.
Dengan keadaan ponsel Kalin yang mati dan nggak tau harus naek angkot mana yang
bisa anterin Kalin sampai rumah." Jelasnya yang dibalas dengan anggukan
Rike.
"Bukan
pacar kamu?"
"Hah?
Bukan lah. Dia teman aku anak kelas XI IPS 4."
"Ya
siapa tau aja anak mama pinter gebet cowok ganteng. Padahal statusnya masih
murid baru di sekolah." Ujar Rike yang dibalas Kalin gelengan kepala.
****
Siang yang
cukup panas membuat pandangan mata juga ikut silau akibat pantulan sinar
matahari yang begitu terik menyinari bumi. Siswa-siswi yang baru pulang sekolah
saat itu membuat jalanan cukup padat. Mobil angkot yang berdiri di sembarang
tempat ikut andil membuat jalan raya macet karena mengharap penumpang dari
bubaran anak sekolah.
Kalin sedang
berdiri di salah satu fotocopyan depan gang sekolah. Menunggu jemputan dari
mamanya yang belum juga datang. Beberapa murid sekolah Kalin bahkan sudah
tampak meninggalkan area sekolah. Membuat jalanan yang tadinya ramai berubah
menjadi langgang.
Kalin
merogoh ponsel di saku seragamnya begitu mendengar bunyi notifikasi WhatsApp.
Dia lalu menggeser layarnya dan menemukan satu buah pesan dari Mamanya.
'Lin, Mama
nggak bisa jemput kamu. Kamu pulang naek angkot aja ya? Kalau nggak pesen
Go-Jek. Oke?'
Kalin
menggerutu begitu membaca pesan Mamanya. Tak elak dia bergerak melangkahkan
kakinya menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot jurusannya.
Dari arah
belakang Kalin mendengar suara mesin motor sebelum kemudian berakhir di sisi
Kalin.
Keano
membuka helm yang menutupi hampir seluruh mukanya dan tersenyum begitu melihat
Kalin.
"Nunggu
jemputan, Lin?" Tanya Keano.
Kalin
menggeleng. "Nunggu angkot. Mama nggak bisa jemput." Jelasnya.
Dilihatnya
lelaki itu yang kali ini sedang tampak berfikir.
"Kalau
aku ajak keluar bentar, mau nggak?" Tanya Keano kemudian.
"Kemana?"
"Ke
mall mungkin, nonton. Mau?"
Kalin
terlihat menimang-nimang sebelum kemudian mengangguk.
"Boleh
deh, tapi aku ijin ke Mama dulu, bentar." Katanya yang dibalas anggukan
oleh Keano. Setelah mengetik pesan untuk ibunya Kalin segera menaiki motor
Keano dan melesat meninggalkan area sekolah.
****
Kalin dan
Keano berjalan beriringan menuju lantai atas tempat bioskop berada. Sesekali
keduanya tertawa di sela-sela obrolannya.
Begitu
sampai Kalin disuruh oleh Keano untuk menunggunya membeli tiket. Gadis itu saat
ini sedang berdiri memperhatikan Keano yang sedang mengantri. Dia bahkan tidak
tahu bahwa ada film baru yang tayang perdana hari ini kalau tidak melihat
antrian yang begitu panjang. Dan Kenao sendiri ada di antara antrian panjang
itu.
Sedang asik
berdiri memperhatikan Keano yang sudah mulai mendekati antrian pembelian tiket.
Kalin dikejutkan oleh pukulan di bahu kanannya bersamaan dengan kemunculan Rere
di hadapannya.
"Kalin
lo lagi ngapain di sini?" Tanya Rere begitu berdiri disamping Kalin.
"Mau
nonton lah, apa lagi." Jawabnya.
"Maksud
gue nonton sama siapa?"
Baru saja
Kalin akan menjawab pertanyaan Rere, Keano muncul dipandangan mereka sambil
memegang dua tiket ditangannya.
"Eh,
ada Rere." Ujar Keano sambil memberi tiketnya pada Kalin.
Rere
tersenyum sambil melihat bingung kearah Keano dan Kalin secara bersamaan.
"Lu mau
nonton sama Keano?" Bisik Rere yang tidak mendapat jawaban dari Kalin.
"Gue
juga mau nonton sama Rio, eh itu orangnya!" Ujar Rere sambil menunjuk Rio
yang sedang berjalan kearah mereka begitu Rere melambaikan tangannya.
"Kalian
mau nonton apa?" Tanya Rere.
"The
Nun." Jawab Keano.
"Nonton
yang jam berapa?" Kalin melihat tiketnya dan menjawab pertanyaan Rere.
"Jam
13:15." ujarnya yang dibalas senyuman oleh Rere. Gadis itu berucap sebelum
melihat tiket yang berada di tangan Rio.
"Yaudah
barengan aja. Gue sama Rio juga mau nonton The Nun, nih." Rere menunjukan
tiketnya ke depan mereka berdua. Keano mengangguk setuju, sedangkan Kalin
tersenyum canggung. Menonton bareng Rere dan Rio yang notabene nya orang
pacaran membuat Kalin tak elak merasa canggung. Karena kesannya seperti orang
double date nggak sih? Apa Kalin aja yang berfikir begitu?
Kalin
mendengar ucapan Rere sebelum mereka berempat berjalan ke area food court untuk
makan siang sambil menunggu jam nonton.
"Lo
hutang cerita sama gue."
****
Kalin tidak
begitu fokus pada layar yang menampilkan film The Nun. Dia malah terlihat sibuk
memainkan ponsel, membuka aplikasi Instagram hanya untuk melihat-lihat story
artis atau teman-temannya. Kalin sendiri tidak begitu suka film horor. Dia
lebih suka membaca daripada menonton film.
Satu studio
penuh menjerit begitu ada adegan yang membuat mereka terkejut keget. Beberapa
diantara mereka bahkan ada yang menutup mata.
Keano yang
duduk disampingnya tertawa begitu melihat Kalin ikut menjerit setelah
sebelumnya gadis itu terlihat pokus pada ponsel digenggamnya. Kalin menoleh
begitu mendengar suara kekehan disamping kursi kanannya.
"Kenapa?"
Tanyanya.
"Kamu
lucu kalau teriak kaya tadi." Jawab Keano yang dibalas Kalin dengan
senyum.
Rere dan Rio
mereka berpisah tempat duduk dari Kalin dan Keano. Rio sendiri memesan kursi yang
hanya untuk dua orang. Lokasinya berada di pertengahan pojok kanan.
Setelah
selesai nonton Kalin meminta untuk langsung pulang mengingat waktu yang sudah
sore. Keano mengangguk dan mengantar Kalin selamat sampai rumah. Lelaki itu
juga sempat mampir kerumahnya dan menjelaskan pada ibu Kalin kenapa putrinya
bisa pulang terlambat. Tidak lama, hanya sekitar lima belas menit lelaki itu
sudah minta ijin untuk pulang ke rumahnya.
****
Hari-hari
berlalu dengan begitu cepat. Kalin sudah bukan lagi murid baru di sekolahnya.
Ia bahkan sudah melewati semester ganjil dengan meninggalkan beberapa tugas
yang membuatnya sibuk. Entah tugas yang diberi oleh guru yang mengejar di
kelasnya atau dari ekskul Matematika Club yang Kalin ikuti. Tetapi itu semua
bisa Kalin lalui dengan lancar tanpa hambatan.
Hubungan
Kalin dan Keano pun kian hari kian dekat. Tak jarang mereka selalu pulang
sekolah bersama atau menghabiskan waktu istirahat berdua. Menghabiskan hampir
setiap waktu liburnya untuk jogging atau menonton film berdua. Pertemuan
pertamanya di Taman Adodya itu mengantarkan suatu kedekatan di antara keduanya.
Hubungan yang bukan lagi sekedar teman, tetapi lebih dari itu.
Cerpen Karya: Inda Megayani

