Monday, January 13, 2020

Contoh Cerpen - Kalin & Keano

Disebuah kota Jakarta bagian selatan jam enam pagi. Kalin berjalan setengah berlari menyusuri beberapa perumahan minimalis di kompleknya. Rambut ekor kudanya bergoyang seirama langkah ke kanan dan ke kiri. Beberapa anak rambut juga berhasil lolos dari ikatan rambutnya. Membuat Kalin mau tak mau harus menghentikan langkah guna memperbaiki ikat rambutnya.
Di pinggir Kalin ada beberapa ibu-ibu yang sedang menggerubungi tukang sayur, mereka terlihat saling tawar-menawar. Lalu ada satu dua anak berlarian sembari tertawa. Mereka semua terlihat begitu bahagia. Ada lagi tukang bubur ayam yang mengetuk mangkuknya guna menarik pelanggan. Masih terlalu pagi tapi kota metropolitan tak pernah mati.
Kalin melewati orang-orang itu dengan sesekali menyapa, walaupun tidak ada yang dikenalnya, ia tidak peduli. Kalin tetap berjalan santai sembari bersenandung ria.
Minggu yang cerah dan suasana yang baru.
Setelah berjalan santai kurang lebih setengah jam Kalin sampai di tempat tujuannya. Taman Adodya yang berada di jalan Barito Jakarta Selatan. Gadis itu merogoh ponsel di saku celananya untuk menghubungi temannya. Di sini ramai, sulit baginya untuk menemukan Rere-temannya.
'Halo, iya Re. Gue di dekat pancoran, lo di mana? Oh oke, gue ke situ.'
Setelah mematikan sambungan telepon Kalin kembali memasukan ponselnya pada saku celana dan berjalan menuju tempat di mana Rere berada.
"Re- Rere!"
Tidak sulit bagi Kalin untuk menemukan Rere walaupun sudah sangat jarang sekali bertemu. Karena Kalin masih hapal bentuk postur tubuh temannya itu.
Gadis yang merasa dipanggil namanya itu berbalik dan tersenyum manis sebelum kemudian menghampiri Kalin.
"Jadi ceritanya lo pindah ke Jakarta nih?" Gadis yang berbicara itu menggerai rambutnya yang kusut kena angin. Menyisir dengan jarinya, lalu mengikat kencang dan rapi.
Mata Kalin memandang ke depan, melihat berpuluh-puluh orang berkumpul di tengah lapangan, terlihat seperti membentuk barisan. Rupanya mereka akan melakukan senam pagi.
"Iya, bokap gue dipindah tugas ke Jakarta. Makanya pindah deh." Jawabnya setelah meneguk air mineral.
Nama gadis itu Kalinsya Putri Aulia. Orang-orang memanggilnya Kalin. Remaja yang masih duduk dibangku SMA. Pindahan dari Bandung dua hari yang lalu karena ayahnya dimutasi ke Jakarta. Sehingga membuat Kalin harus ikut pindah dan tinggal di ibu kota ini.
"Terus, sekolah di tempat gue?"
"Iyalah, di mana lagi."
Sebelumnya di Bandung Kalin bersekolah disalah satu SMA favorit dan terkenal dengan segudang prestasi. Salah satu sekolah negeri yang telah memberi banyak pengalaman selama satu tahun terakhir pada Kalin. Sebelum masanya Kalin harus pindah sekolah ke Jakarta, membuat Kalin merasa bingung mesti pindah sekolah ke tempat mana, walaupun di Jakarta lebih banyak sekolah yang unggul dan berprestasi. Sampai akhirnya Kalin membuka aplikasi Instagram dan menghubungi Rere perihal ke pindahannya. Hingga akhirnya pilihan sekolahnya jatuh di mana tempat Rere bersekolah.
Rere adalah teman semasa kecilnya di Bandung. Mereka cukup dekat waktu itu, ibu Rere dan ibu Kalin sendiri menjalin sahabat semasa kuliahnya. Makanya tak heran mereka masih terlihat akrab walaupun bahkan jarang bertemu. Waktu itu Rere dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan papanya. Sehingga membuat Kalin dan Rere tidak pernah bertemu lagi. Paling sesekali menghubungi lewat sosial media. Tapi tidak ada yang tahu kalau mereka akan bertemu lagi dan bersekolah di tempat yang sama.
"Oke deh, semoga aja kita satu kelas." Kata Rere.
"Mudah-mudahan." Balas Kalin.
Hening beberapa saat di antara keduanya, tapi tidak dengan suasana sekitar. Karena nyatanya kota metropolitan tak pernah mati barang sedetik pun. Terdengar bising jalanan, suara sirine, bunyi klakson yang saling bersahutan, nyanyian pengamen jalanan, hingar musik senam pagi, dan suara dering yang berasal dari ponsel milik Rere.
Gadis itu permisi untuk mengangkat panggilan di ponselnya dan melangkah menjauh dari Kalin.
Selang beberapa menit kemudian Rere kembali muncul di hadapan Kalin. "Lin, gue pulang duluan ya?" Ujar Rere begitu sampai di depan Kalin. Kalin yang sedang memainkan ponsel sejenak mendongak begitu mendengar suara Rere.
"Lho, kenapa?" Tanyanya.
"Di rumah ada Rio, dia nungguin gue dari tadi katanya."
Jawaban Rere membuat kerutan di kening Kalin.
Lantas Kalin kembali bertanya.
"Cowok lo?"
"Iya."
Kalin manggut-manggut tanda mengerti, kemudian gadis itu tersenyum dan mempersilahkan Rere untuk pulang lebih dulu. Walaupun janji untuk menemani jalan-jalan di hari minggunya harus tidak jadi.
"Yaudah, deh. Gue pulang duluan ya. Hati-hati Lin, bye!"
Kalin menyusut pipinya dengan punggung tangannya lalu menatap kearah punggung Rere yang semakin menjauh dan menghilang di balik punggung orang lain.
Kebiasaan Rere yang tidak pernah berubah sedari dulu. Gadis itu selalu mencium pipi Kalin sebagai tanda bentuk perpisahan.
Kalin beranjak dari tempat duduknya. Mendongak dan menatap langit yang sudah mulai terasa panas. Matanya sempat melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 09:36, ia berjalan mendekati beberapa jajanan yang berjejer di pinggir lapangan. Perut Kalin keroncongan, ia tidak sempat sarapan pagi.
Pilihannya jatuh membeli bubur sum-sum dan air mineral, persediaan minumnya sudah habis sejak tadi.
Sebenarnya ada banyak makanan yang bisa Kalin beli, seperti: bubur ayam, doclang, nasi uduk, ketoprak, dan masih banyak yang lainnya. Tapi melihat antrian yang lumayan akan lama jadi Kalin mengurungkan niatnya dan memilih membeli bubur sum-sum.
Setelah membayar buburnya Kalin kembali berjalan menuju tempat duduk yang ada di bawah pohon rindang. Tempat yang berbeda dari sebelumnya dan Kalin rasa akan terasa nyaman dari lindungan sengatan matahari.
Ketika Kalin sedang berjalan, tiba-tiba seseorang entah siapa menabrak tubuh bagian belakangnya dengan begitu keras. Kalin yang sedang berjalan santai merasa terkejut dengan tubrukan itu sehingga membuat tubuhnya terhuyung ke depan dengan naas. Kedua lengannya mencium tanah, begitu dengan lututnya. Lalu bubur sum-sum yang dipegangnya berhamburan di atas tanah.
"Awhh." Kalin meringis kesakitan begitu mencoba untuk berdiri. Lututnya begitu terasa kaku dan ngilu secara bersamaan.
Masih duduk di atas tanah, Kalin membersihkan tanah yang menempel di kedua telapak tangannya.
"Ya ampun dek! maafin anak saya ya. Sini saya bantu berdiri."
Kalin mendongak mendengar suara itu. Matanya melihat seorang wanita yang mungkin berusia empat puluh tahun sedang mencoba membantunya untuk berdiri.
Kalin mencoba untuk tersenyum walaupun terlihat gagal karena ia tersenyum sembari meringis kesakitan.
Ibu-ibu itu meminta maaf padanya akibat ulah anaknya yang berusia tujuh tahun. Bahkan ibu-ibu itu mengangsurkan uang pada Kalin untuk mengobati luka di lututnya. Kalin menolaknya dengan halus.
"Nggak papa bu, namanya juga anak kecil." Jawab Kalin.
Ibu-ibu di depannya itu tersenyum dan kembali memasukkan uangnya ke dalam dompet. Ia permisi pada Kalin untuk menyusul anaknya yang masih terlihat sedang berlari-lari di tengah kerumunan orang.
Kalin mencoba menggerakkan kakinya menuju tempat duduk yang menjadi tujuan sebelumnya.
Sebelum kejadian mengenaskan Kalin ditabrak oleh anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun, dan menyebabkan bubur sum-sumnya terbuang sia-sia. Ah, ia bahkan belum sempat mencicipinya.
Kalin berjalan setengah terpogoh menahan rasa sakit di lututnya. Berusaha untuk cepat sampai pada kursi yang ditujunya.
Ia menghempaskan bokongnya dan menyandarkan penuh punggungnya pada kursi di taman. Ternyata berjalan setengah terpogoh menahan rasa sakit membuat Kalin merasakan lelah.
Sedang asik duduk di taman sembari membersihkan luka di lututnya dengan air mineral yang ia beli. Kalin kembali dikejutkan dengan suara bariton milik laki-laki di sampingnya.
"Kamu nggak papa?"
Eh, Mata Kalin menatap pada kedua manik hitam di depannya yang sedang tersenyum manis padanya.
Sempat terjadi aksi tatap mata sebelum kemudian Kalin mengalihkan pandangan.
Laki-laki itu mengernyit melihat ekspresi Kalin. Lalu kembali bertanya.
"Nggak papa?" Tanyanya ulang.
"Aku tadi lihat kamu jatuh di sana, ke tubruk sama anak kecil."
Kalin masih diam, bisu. Pertanyaan bertubi-tubi dari seseorang yang tidak dikenalnya berhasil membuat Kalin mendadak gagu.
"Oh, itu. Nggak papa kok cuman sedikit lecet aja." Kalin tersenyum manis. Lalu merapihkan kunciran rambutnya. Mengikatnya lebih kencang supaya tidak cepat berantakan dan menghalangi matanya.
Laki-laki yang disampingnya ikut mengangguk dan membalas senyumnya hangat.
"Mau aku bantu obatin lukanya?" Dari suaranya Kalin bisa menebak bawa laki-laki itu berucap cukup hati-hati.
"Hah? Nggak usah, aku nggak papa kok." Kalin meyakinkan dengan kembali tersenyum.
"Aku Keano.. kamu?"
Laki-laki yang bernama Keano itu mengulurkan tangannya.
Kalin memandang sejenak sebelum akhirnya membalas uluran tangan itu.
"Kalin." Jawab Kalin yang dibalas anggukan oleh Keano.
Hening berdetik-detik. Kalin dengan kegiatannya membersihkan luka di lutut. Dan Keano yang fokus menatap ke depan.
"Aku beliin bubur sum-sum lagi mau? Kayanya kamu belum sempet makan gara-gara jatuh."
Kata-kata Keano membuat Kalin terbengong. Kemudian menggeleng.
"Eh, nggak usah. Nggak papa." Kalin menolak
"Udah nggak papa, kamu tunggu di sini aja. Aku beli dulu, oke."
Lalu Kalin melihat punggung Keano yang berjalan menghampiri tukang bubur sum-sum.
Setelah kurang lebih sepuluh menit Keano kembali dengan membawa bubur sum-sum di tangannya. Ia tersenyum pada Kalin sebelum menghampiri dan duduk di sebelahnya.
"Nih." Keano memberikan bubur sum-sum pada Kalin dan dibalas dengan senyum serta ucapan terimakasih darinya.
"Makasih ya." Keano balas mengangguk.
Kini Kalin disibukan dengan aktifitas memakan bubur sum-sum nya. Sedangkan Keano dia terlihat meminum es teh yang ia beli bersama dengan bubur sum-sum. Sampai tidak terasa bahwa Kalin sudah memakan habis buburnya.
Ia melihat ke arah samping di mana Keano berada, memandangnya lalu tersenyum canggung begitu Keano melirik kearahnya.
"Kamu sendirian aja joggingnya?" Tanya Keano. Mata laki-laki itu menatap Kalin sejenak sebelum kembali memfokuskan pandangannya ke depan pada anak kecil yang terlihat merengek pada ibunya.
"Sebenarnya tadi sama temen, tapi dia pulang duluan."
"Oh," Keano mengangguk paham.
"Kamu sendiri juga, sama?"
Lelaki itu balas mengangguk.
"Iya, temen-temen mana ada yang udah bangun jam segini. Pasti mereka memilih tidur daripada olahraga." Ujarnya sambil terkekeh.
Benar, anak laki-laki pasti lebih memilih menghabiskan waktu liburnya di dalam kamar dengan tidur seharian full. Mengganti jadwal tidurnya yang semalam mereka pakai untuk nonton bola atau kegiatan bergadang lainnya.
Kalin dan Keano kembali berbincang-bincang untuk mencairkan suasana yang terasa canggung. Mereka tak saling kenal, tapi seolah tidak ada hambatan untuk keduanya mengobrol berdua. Kalin sendiri tidak merasa masalah. Ia bahkan senang bisa langsung dapat teman di hari pertamanya keluar dari rumah. Tidak terlalu buruk. Keano terlihat baik.
Kalin merasakan ponsel di saku celananya bergetar. Satu pesan teks muncul di layar.
From: Mama
'masih dimana, kok belum pulang?'
Kalin menggerakkan kedua ibu jarinya di atas layar ponsel. Membalas pesan dari ibunya.
Setelah selesai membalas pesan dari ibunya, ia menoleh ke arah Keano yang kebetulan sedang menatapnya. Sebuah mata cokelat menatapnya dengan begitu intens.
Kalin berdeham, seolah membuyarkan pandangan Keano darinya.
"Habis ini kamu mau kemana?" Tanya Kalin.
"Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab pertanyaan Kalin, Keano malah balik bertanya.
"Kalau aku mau pulang. Udah di sms sama mama."
"Oh yaudah. Aku juga mau pergi ke sana." Jawabnya.
Kalin tersenyum dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan pelan-pelan setelah sebelumnya pamit dan mengucapkan terima kasih pada Keano.
Keano masih diam, menatap gadis yang sudah berada jauh beberapa meter darinya. Sedang berjalan dengan begitu pelan dan hilang dibalik punggung orang.
Keano melirik jam tangannya lalu bangkit dari duduknya. Meninggalkan sekerumunan orang, menyebrang jalan dan hilang di balik tikungan untuk menuju kosan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari taman Adodya.
****

Kalin merebahkan tubuhnya lelah di atas sofa empuk ruang tamu rumahnya. Matanya dibiarkan terpejam. Titik-titik keringat jatuh dari pelipis mata. Tangganya bergerak mencari remote AC, lalu menyalakannya. Siapa tahu suhu ruangan dingin bisa membuatnya sedikit merasa sejuk.
Ibunya muncul dari balik pintu dapur dengan membawa es jeruk di tangannya. Ia berjalan menuju Kalin dan menempelkan badan gelas dipipinya.
Kalin terkesiap begitu merasakan sensasi dingin menyentuh pipinya. Ia membuka mata dan menemukan ibunya sedang tersenyum padanya.
"Capek, ya?" Rike menyerahkan minum pada anaknya yang langsung diterima dan diteguk hingga tersisa seperempat.
"Makasih, Ma." Ujar Kalin setelah beres minum. Rike mengangguk lalu kembali berdiri dan berjalan menuju dapur dengan tangan yang membawa gelas bekas anaknya.
"Setelah itu mandi Lin, nanti mama siapin makan buat kamu."
"Iya, Ma." Jawab Kalin. Ia berdiri dan berjalan menuju kamarnya yang berada di atas. Tidak lupa tangganya membawa kotak P3K yang ia ambil di laci bawah. Kalin akan kembali mengobati lututnya.
****
Malam sudah terlewat dan pagi mulai beranjak. Kalin merapihkan seragam sekolahnya, sedikit berkutat di depan cermin. Memoles pipinya dengan sedikit bedak dan sentuhan lip ice di bibirnya. Kalin tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin. Hari pertamanya masuk sekolah di sekolah baru. Semoga menyenangkan.
Kalin bergerak menuju meja belajar. Mengambil tas gendongnya dan kembali memeriksa barang bawaannya. Memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal. Ini hari pertama Kalin bersekolah di sekolah baru, tidak lucu baginya kalau harus dihukum gara-gara tidak membawa perlengkapan sekolah. Misalnya topi upacara.
Tangannya bergerak memutar kenop pintu dan menuruni tangga untuk menuju ruang makan. Aroma roti bakar isi telur buatan ibunya memanggil-manggil perut Kalin yang keroncongan.
"Pagi, Ma. Pagi, Pa." Sapa Kalin serta merta menjatuhkan bokongnya dibangku samping ayahnya. Rike balas tersenyum, begitu pula dengan ayahnya.
"Udah rapi aja anak papa." Ujar Arya begitu melihat keadaan putrinya. Sejenak ia menaruh koran yang sedari tadi dibacanya.
Kalin balas tersenyum. "Iyalah, kan mau masuk ke sekolah baru." Ujar ibunya sembari menuangkan teh pada gelas di depannya.
Selanjutnya ketiga orang di ruang makan itu disibukkan dengan sarapannya masing-masing. Sebelum akhirnya Kalin membuka suara. "Udah setengah tujuh, yah." Kalin mengingatkan setelah melihat jam dipergelangan tangannya. Ia lalu berdiri dan duduk di ruang tamu. Mengambil sepatu yang disimpannya dibalik pintu lalu mengenakannya.
Arya menyusul dengan Rike yang membawa tas kerjanya.
"Kalin berangkat dulu ya, ma. Assalamualaikum." Kalin mencium punggung lengan ibunya. Dan bergerak menuju mobil. Sedangkan Rike terlihat mencium punggung lengan suaminya sebelum berucap.
"Wa'alaikum salam. Hati-hati Lin, Pa." Ujarnya yang dibalas angkatan jempol oleh suaminya.
****
Kalin pamit kepada ayahnya begitu sampai di tempat sekolah barunya. Ia berjalan menuju gerbang utama sekolahnya. Matanya melihat beberapa murid sekolah yang mengenakan seragam yang sama dengannya, sedang berbincang-bincang dengan beberapa temannya.
Matanya celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari seseorang yang bisa membantunya menemukan ruang kepala sekolah. Kalin tidak tahu di mana letak ruang guru, kelasnya, bahkan kantin ataupun toilet ia tidak tahu. Ini hari pertamanya masuk sekolah. Ia belum tahu di mana saja letak-letaknya. Apalagi sekolah yang baru ini terlihat begitu besar.
Beberapa murid ada yang mencuri pandang pada Kalin. Mereka terlihat berbisik-bisik pada temannya begitu Kalin melewatinya. Mencoba menebak-nebak bahwa mungkin Kalin adalah murid baru. Kalin tersenyum ramah pada mereka. Sebelum kembali berjalan dan berhenti dilangkah kelima. Matanya memandang laki-laki yang sedang berjalan beberapa meter di hadapannya. Dengan tas yang menggantung di punggung tegapnya. Dilihatnya lebih jelas punggung itu, sebelum Kalin memutuskan untuk menyeruakan namanya.
"Keano!" Kalin mempercepat langkahnya begitu laki-laki yang dipanggilnya itu berhenti dan berbalik menatapnya. Kalin balas tersenyum. Dengan Keano yang dibuat bingung tapi tak enggan untuk membalas senyuman Kalin.
****
"Kamu sekolah di sini?"
Keduanya berjalan bersisian menyusuri koridor yang ramai dengan murid-murid. Beberapa diantara mereka sedang menikmati pagi hari dengan caranya sendiri. Ada yang terlihat sibuk mengobrol dibangku koridor yang panjang, mengoceh sembari tertawa khas anak perempuan. Lalu ada lagi siswa yang membaca buku sembari berjalan. Oh, ayolah, ini ramai. Apa dia tidak takut menubruk seseorang? Kalin bergumam dalam hati. Tapi kemudian bersikap acuh dan tak peduli. Mungkin laki-laki itu tipe cowok yang kutu buku, pikirnya.
Pertanyaan Kalin pada Keano dibalas anggukan oleh lelaki itu. Keano juga memberi tahu bahwa dia berada dikelas XI IPS 4. Kalin mengangguk-anggukan kepalanya dan mendongak pada Keano yang memiliki postur tubuh yang sangat tinggi. Tingginya hanya sebatas bahu Keano.
Kalin memang tidak bisa dikategorikan tinggi dengan postur tubuh yang kecil dan tinggi badan 158cm.
Mereka berdua sampai pada ruangan yang dimaksud Kalin. Ruang kepala sekolah.
"Ini ruangannya, Lin." Keano berucap sembari menoleh pada mulut pintu.
"Oke. Makasih ya, No." Keano balas  mengangguk.
Lalu Kalin masuk dan hilang dibalik pintu. Keano sendiri kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kelasnya yang ada dilantai tiga.
Kalin ditempatkan dikelas XI IPA 2 yang berada dilantai dua. Satu kelas dengan Rere. Walaupun tidak duduk satu bangku, ia tidak merasa masalah. Kalin duduk dengan Inge-teman barunya. Temannya Rere yang duduk di bangku depan Rere. Kebetulan hanya bangku itu yang kosong untuk Kalin tempati.
Sepuluh menit Kalin gunakan untuk berkenalan dengan teman-teman barunya. Dan ia langsung terlihat akrab dengan teman satu kelasnya. Apalagi Inge yang notabene nya teman sebangku dan Nadia teman sebangku Rere. Mereka seolah sudah saling kenal sebelumnya.
Aktivitas mengobrol disela-sela menunggu kedatangan guru yang mengajar di jam pertama harus terhenti begitu terdengar suara hentakan sepatu pantofel yang menyentuh lantai. Disusul dengan kemunculan ibu guru yang masih terlihat muda memasuki ruang kelas dengan laptop dan beberapa buku dipelukannya.
"Pagi, Miss." Sapa murid serentak yang dibalas oleh anggukan dari guru itu. Rima-guru yang mengajar bahasa Inggris lintas minat itu menjatuhkan bokongnya dikursi empuk milik guru. Meletakkan beberapa buku bahan ajarannya di atas meja dan menyuruh ketua kelas untuk memimpin doa.
Setelah selesai berdoa bersama, pandangannya mengedar keseluruhan penjuru kelas. Mengamati muridnya satu persatu, lalu pandangan matanya jatuh pada kursi yang sudah terisi.
Sedikit melirik daftar absen siswa, Miss Rima berseru. "Kalinsya Putri Aulia?" Panggilnya.
Kalin yang merasa dipanggil namanya lantas mengangkat lengannya.
"Murid baru?" Kalin mengangguk dan dibalas senyuman oleh Miss Rima.
"Baik kalau begitu, sebelum pelajaran dimulai ketua kelasnya tolongin ibu pasangin proyektor kelas." Titahnya yang diterima baik oleh Aldo. Lelaki itu berjalan ke depan setelah sebelumnya mengambil proyektor kelas yang ditaruh di belakang kelas. Di tempat di samping loker teman-temannya.
****
Bunyi bel istirahat sudah berbunyi lima menit yang lalu. Tapi Kalin masih setia dibangkunya dengan tangan yang terus menari di atas buku tulis. Ia sedang memindahkan catatan yang ada di papan tulis.
"Kantin nggak, Lin?"
Inge menutup bukunya lalu memasukan ke dalam tasnya. Dia berdiri dari duduknya dan menyingkir keluar meja.
"Duluan aja, gue masih banyak catatannya." Jawab Kalin tanpa menoleh kearah Inge.
"Yaudah, kita duluan ya." Kali ini Nadia yang bersuara. Kalin balas mengangguk, lalu keduanya berjalan meninggalkan Kalin.
Rere sendiri sudah keluar lebih dulu, sejak menit pertama bunyi bel istirahat gadis itu sudah mengacir keluar kelas. Menginggalkan catatannya yang belum selesai ia salin. Rere tentunya tidak pergi sendirian ke kantin. Kalin sempat melihat bahwa tadi Rere di jemput sama cowok di depan kelas. Kata Inge dan Nadia itu pacarnya Rere, anak kelas XI IPS 1.
Kalin menutup catatannya dan merapihkan buku-buku yang tergeletak berantakan di atas meja. Dia memasukan ke dalam tas dan berjalan keluar kelas. Cacing-cacing di perutnya sudah meminta jatah makan.
Waktu istirahat pertama memang selalu ramai. Dari luar pun Kalin sudah bisa mendengar suara bising dari dalam kantin. Selayaknya kacang yang tumpah ruah dari wadahnya.
Kalin menyelipkan tubuh kecilnya untuk bisa masuk kedalam kantin, dan berhasil. Kini Kalin mulai sibuk mencari menu makanan yang bisa mengganjal perutnya selama satu setengah jam ke depan. Dan pilihannya pun jatuh memilih membeli bakso.
****
Kalin duduk dibangku kantin yang berada di pojok. Bergabung dengan Rere dan Rio. Sebelumnya Kalin mencari keberadaan Inge dan Nadia, tapi mereka sulit ditemukan di tempat ramai seperti ini. Kalin pun bergabung dengan mereka karena panggilan Rere yang menyeruakan namanya.
"Kalin." Gadis itu menyapa Rio hangat sembari mengulurkan tangannya.
"Rio." Balas lelaki itu.
Mereka mengobrol disela-sela makan. Sampai akhirnya harus kembali ke kelas masing-masing begitu bel istirahat berbunyi.
Siswa-siswi yang masih sibuk menghabiskan makanannya dengan terpaksa harus menyelesaikan dengan secepat kilat untuk kembali ke kelasnya masing-masing.
Kalin sudah berada di kelas dan baru saja duduk di kursinya. Mengambil pelajaran baru di dalam tasnya dan menunggu kedatangan guru mata pelajaran PPKn.
Selang sepuluh menit berikutnya tidak ada tanda-tanda guru masuk ke kelasnya. Suasana di kelas menjadi ramai dengan segala tingkah murid. Malah ada beberapa dari mereka terlihat tidak perduli. Toh, memang ini yang ditunggunya. Jam kosong. Barangkali hampir semua anak SMA mengharapkan hal tersebut.
Aldo muncul dibalik mulut pintu disusul dengan Rizal. Kedua lengan mereka masing-masing mendekap buku paket. Dan membagikannya satu-persatu ke setiap meja. Setelah itu Aldo berdiri di depan kelas dan meminta perhatian.
"Woy! Semuanya dengerin gue!"
Teriaknya supaya didengar oleh teman-temannya yang terlihat sibuk masing-masing. Beberapa di antara mereka ada yang merespon teriakan Aldo dengan memfokuskan pandangan padanya, tapi beberapa juga terlihat tidak perduli.
"Pak Lucky berhalangan masuk hari ini karena ada keperluan mendadak. Tapi dia kasih tugas buat baca halaman 38 sampai 50. Terus jangan lupa soal yang dihalaman 50nya diisi dari nomor satu sampai sepuluh. Dikertas selembar." Teriaknya yang dibalas desisan sekelas.
"Kalau belum paham sekretaris tulis aja nih di depan."
Aldo berjalan menuju meja Maya dan menyerahkan selembar kertas padanya. Gadis itu menerima dan berjalan ke depan kelas sembari membawa spidol. Menggoreskan tinta hitam di white board dan meninggalkan hasil tulisannya yang dapat dilihat oleh teman-temannya.
Tapi segerombolan anak laki-laki dipojokan sama sekali tidak terusik dengan teriakan Aldo. Mereka memilih mengobrol atau sekedar memainkan ponsel. Bahkan ada yang membuka lapak dengan menggelar permainan catur.
Sekali lagi Aldo berteriak sebelum duduk dikursi miliknya.
"Jangan lupa untuk di kumpulin tugasnya!"
Didit yang sedang sibuk main catur lantaran menjawab teriakan Aldo tak kalah kencang.
"Etdah buset iya nanti gue kerjain. Berisik amat si lu kaya ibu-ibu. Rame!" Teriaknya yang dibalas cekikikan teman-temannya.
****
Sepulang sekolah Kalin mampir ke toko buku yang ada di Jakarta. Hanya sendiri dengan berbekal abang Go-Jek ia bisa sampai di tempat tujuannya.
Matanya menatap penuh minat pada setiap buku yang terpajang rapi di jejeran rak. Kalin seolah-olah seperti menemukan oasis di tengah gurun.
Gadis itu pergi ke toko buku sendirian dan menolak ajakan Inge yang ingin menemaninya. Bukan apa-apa, Kalin itu tipe orang yang senang berlama-lama di toko buku, dia bahkan sampai lupa waktu. Sampai-sampai tidak sadar bahwa tiba-tiba waktu berubah menjadi gelap. Kalin tentu saja tidak mau membuat temannya menunggu lama lagi. Karena Kalin sendiri pernah punya pengalaman waktu di Bandung. Temannya meminta pulang lebih dulu karena menunggu Kalin terlalu lama. Makanya tadi Kalin menolak tawaran Inge dan pergi sendiri saja.
Setelah menemukan buku yang dicarinya Kalin berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Mata gadis itu sempat melirik ke arah jendela dan terkejut begitu melihat keadaan luar yang sudah tampak gelap.
Tangan Kalin bergerak mengambil ponsel yang ditaruhnya di dalam tas. Dan merutuki kebodohannya begitu melihat baterai ponselnya sudah habis. Ia bahkan lupa perihal ini.
Kalin berdiri cukup lama. Menimang dirinya untuk pulang ke rumah dengan naik angkutan umum atau tidak. Tapi masalahnya Kalin tidak tahu angkutan umum mana yang akan mengantarkannya ke rumah.
Suasana semakin gelap dan awan yang tadinya terang benderang berubah menjadi gumpalan awan hitam. Disertai dengan angin yang berhembus kencang. Rupanya sebentar lagi akan turun hujan.
Andai saja telepon umum masih bisa ditemui di Jakarta, dia pasti tidak akan susah-susah untuk menghubungi ibunya dan meminta jemput.
Sedang sibuk memperhatikan langit dan keadaan sekitar, Kalin dikejutkan dengan suara panggilan pada dirinya. Bersamaan dengan munculnya Keano di pandangannya. Laki-laki itu turun dari motornya sambil membuka helm dan menatap Kalin bingung.
"Kamu lagi ngapain, Lin?" Tanya Keano bingung begitu melihat keadaan Kalin. Gadis itu bahkan masih mengenakan seragam sekolah disaat jam yang sudah menunjukan pukul lima sore.
Kalin tersenyum menyapa, tak elak dia merasa sedikit tenang dengan kedatangan Keano.
"Aku boleh pinjem hp kamu nggak? Mau telpon Mama buat jemput. Hp aku lowbet." Katanya sambil melihat mata Keano. Mengabaikan pertanyaan Keano sebelumnya.
Lelaki itu bergerak membuka jaket yang dikenakannya dan menyerahkan pada Kalin. Berjalan menuju motornya sebelum berucap.
"Aku antar pulang. Itu pake jaketnya buat tutupin rok kamu."
Kalin tersenyum dan bergerak mengenakan jaket milik Keano untuk menutupi rok pendeknya. Lalu berjalan menuju motor Keano.
Setelah Kalin duduk di motor Keano dengan sedikit kesusahan karena motor Keano yang gede. Akhirnya motor Keano melesat ke jalan raya Jakarta yang padat. Menyelipkan motornya ke kanan dan ke kiri dengan angin yang berhembus kencang di udara.
Motor Keano melipir begitu sampai di rumah milik Kalin. Dia membuka helmnya dan menemukan Kalin yang menatap penuh pada dia dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Diserahkan jaket keano padanya.
"Makasih ya, No." Lelaki itu balas mengangguk.
"Mau mampir dulu nggak?" Tanya Kalin basa-basi.
"Nggak usah deh, aku langsung balik aja udah sore." Katanya yang dibalas anggukan oleh Kalin. Lelaki itu kembali memasangkan helmnya dan bergerak melaju dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan pohon-pohon dan beberapa rumah yang tertinggal di belakang.
"Kok tumben baru balik?" Tanya Rike begitu Kalin membuka pintu rumah. Matanya sempat melihat kearah depan.
"Tadi Kalin mampir ke toko buku sepulang sekolah. Terus pas mau kabari mama ponsel Kalin mati." Jelasnya. Dia bergerak membuka sepatu dan menaruhnya dirak.
"Terus tadi siapa yang anterin kamu pulang?" Rike kembali bersuara. Mereka berjalan kearah dapur dengan Kalin yang saat ini sedang mengambil air di dispenser.
"Itu Keano. Kebetulan dia datang disaat Kalin kebingungan gimana caranya pulang. Dengan keadaan ponsel Kalin yang mati dan nggak tau harus naek angkot mana yang bisa anterin Kalin sampai rumah." Jelasnya yang dibalas dengan anggukan Rike.
"Bukan pacar kamu?"
"Hah? Bukan lah. Dia teman aku anak kelas XI IPS 4."
"Ya siapa tau aja anak mama pinter gebet cowok ganteng. Padahal statusnya masih murid baru di sekolah." Ujar Rike yang dibalas Kalin gelengan kepala.
****
Siang yang cukup panas membuat pandangan mata juga ikut silau akibat pantulan sinar matahari yang begitu terik menyinari bumi. Siswa-siswi yang baru pulang sekolah saat itu membuat jalanan cukup padat. Mobil angkot yang berdiri di sembarang tempat ikut andil membuat jalan raya macet karena mengharap penumpang dari bubaran anak sekolah.
Kalin sedang berdiri di salah satu fotocopyan depan gang sekolah. Menunggu jemputan dari mamanya yang belum juga datang. Beberapa murid sekolah Kalin bahkan sudah tampak meninggalkan area sekolah. Membuat jalanan yang tadinya ramai berubah menjadi langgang.
Kalin merogoh ponsel di saku seragamnya begitu mendengar bunyi notifikasi WhatsApp. Dia lalu menggeser layarnya dan menemukan satu buah pesan dari Mamanya.
'Lin, Mama nggak bisa jemput kamu. Kamu pulang naek angkot aja ya? Kalau nggak pesen Go-Jek. Oke?'
Kalin menggerutu begitu membaca pesan Mamanya. Tak elak dia bergerak melangkahkan kakinya menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot jurusannya.
Dari arah belakang Kalin mendengar suara mesin motor sebelum kemudian berakhir di sisi Kalin.
Keano membuka helm yang menutupi hampir seluruh mukanya dan tersenyum begitu melihat Kalin.
"Nunggu jemputan, Lin?" Tanya Keano.
Kalin menggeleng. "Nunggu angkot. Mama nggak bisa jemput." Jelasnya.
Dilihatnya lelaki itu yang kali ini sedang tampak berfikir.
"Kalau aku ajak keluar bentar, mau nggak?" Tanya Keano kemudian.
"Kemana?"
"Ke mall mungkin, nonton. Mau?"
Kalin terlihat menimang-nimang sebelum kemudian mengangguk.
"Boleh deh, tapi aku ijin ke Mama dulu, bentar." Katanya yang dibalas anggukan oleh Keano. Setelah mengetik pesan untuk ibunya Kalin segera menaiki motor Keano dan melesat meninggalkan area sekolah.
****
Kalin dan Keano berjalan beriringan menuju lantai atas tempat bioskop berada. Sesekali keduanya tertawa di sela-sela obrolannya.
Begitu sampai Kalin disuruh oleh Keano untuk menunggunya membeli tiket. Gadis itu saat ini sedang berdiri memperhatikan Keano yang sedang mengantri. Dia bahkan tidak tahu bahwa ada film baru yang tayang perdana hari ini kalau tidak melihat antrian yang begitu panjang. Dan Kenao sendiri ada di antara antrian panjang itu.
Sedang asik berdiri memperhatikan Keano yang sudah mulai mendekati antrian pembelian tiket. Kalin dikejutkan oleh pukulan di bahu kanannya bersamaan dengan kemunculan Rere di hadapannya.
"Kalin lo lagi ngapain di sini?" Tanya Rere begitu berdiri disamping Kalin.
"Mau nonton lah, apa lagi." Jawabnya.
"Maksud gue nonton sama siapa?"
Baru saja Kalin akan menjawab pertanyaan Rere, Keano muncul dipandangan mereka sambil memegang dua tiket ditangannya.
"Eh, ada Rere." Ujar Keano sambil memberi tiketnya pada Kalin.
Rere tersenyum sambil melihat bingung kearah Keano dan Kalin secara bersamaan.
"Lu mau nonton sama Keano?" Bisik Rere yang tidak mendapat jawaban dari Kalin.
"Gue juga mau nonton sama Rio, eh itu orangnya!" Ujar Rere sambil menunjuk Rio yang sedang berjalan kearah mereka begitu Rere melambaikan tangannya.
"Kalian mau nonton apa?" Tanya Rere.
"The Nun." Jawab Keano.
"Nonton yang jam berapa?" Kalin melihat tiketnya dan menjawab pertanyaan Rere.
"Jam 13:15." ujarnya yang dibalas senyuman oleh Rere. Gadis itu berucap sebelum melihat tiket yang berada di tangan Rio.
"Yaudah barengan aja. Gue sama Rio juga mau nonton The Nun, nih." Rere menunjukan tiketnya ke depan mereka berdua. Keano mengangguk setuju, sedangkan Kalin tersenyum canggung. Menonton bareng Rere dan Rio yang notabene nya orang pacaran membuat Kalin tak elak merasa canggung. Karena kesannya seperti orang double date nggak sih? Apa Kalin aja yang berfikir begitu?
Kalin mendengar ucapan Rere sebelum mereka berempat berjalan ke area food court untuk makan siang sambil menunggu jam nonton.
"Lo hutang cerita sama gue."
****
Kalin tidak begitu fokus pada layar yang menampilkan film The Nun. Dia malah terlihat sibuk memainkan ponsel, membuka aplikasi Instagram hanya untuk melihat-lihat story artis atau teman-temannya. Kalin sendiri tidak begitu suka film horor. Dia lebih suka membaca daripada menonton film.
Satu studio penuh menjerit begitu ada adegan yang membuat mereka terkejut keget. Beberapa diantara mereka bahkan ada yang menutup mata.
Keano yang duduk disampingnya tertawa begitu melihat Kalin ikut menjerit setelah sebelumnya gadis itu terlihat pokus pada ponsel digenggamnya. Kalin menoleh begitu mendengar suara kekehan disamping kursi kanannya.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Kamu lucu kalau teriak kaya tadi." Jawab Keano yang dibalas Kalin dengan senyum.
Rere dan Rio mereka berpisah tempat duduk dari Kalin dan Keano. Rio sendiri memesan kursi yang hanya untuk dua orang. Lokasinya berada di pertengahan pojok kanan.
Setelah selesai nonton Kalin meminta untuk langsung pulang mengingat waktu yang sudah sore. Keano mengangguk dan mengantar Kalin selamat sampai rumah. Lelaki itu juga sempat mampir kerumahnya dan menjelaskan pada ibu Kalin kenapa putrinya bisa pulang terlambat. Tidak lama, hanya sekitar lima belas menit lelaki itu sudah minta ijin untuk pulang ke rumahnya.
****
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Kalin sudah bukan lagi murid baru di sekolahnya. Ia bahkan sudah melewati semester ganjil dengan meninggalkan beberapa tugas yang membuatnya sibuk. Entah tugas yang diberi oleh guru yang mengejar di kelasnya atau dari ekskul Matematika Club yang Kalin ikuti. Tetapi itu semua bisa Kalin lalui dengan lancar tanpa hambatan.

Hubungan Kalin dan Keano pun kian hari kian dekat. Tak jarang mereka selalu pulang sekolah bersama atau menghabiskan waktu istirahat berdua. Menghabiskan hampir setiap waktu liburnya untuk jogging atau menonton film berdua. Pertemuan pertamanya di Taman Adodya itu mengantarkan suatu kedekatan di antara keduanya. Hubungan yang bukan lagi sekedar teman, tetapi lebih dari itu.

Cerpen Karya: Inda Megayani